Keanehan yang Terjawab dan Tak Tejawab
Kemarin adalah hari
Senin, 4 Juni 2012. Malam itu aku sedang menikmati kesendirianku dengan membaca
buku yang bertuliskan “Immunologi Dasar” di covernya yang berwarna biru laut. Aku
sendiri karena teman-temanku sedang menghadiri acara seni yang diadakan oleh
mahasiswa kedokteran dari kampusku guna refreshing sejenak di tengah penatnya
dunia perkuliahan di kedokteran ini. Kamarku yang terletak di asrama putri
tingkat 4 merupakan 1 dari 3 kamar yang terdapat penghuni manusianya. Sisanya yang
21 kamar adalah kosong karena hampir semua menghadiri acara bergengsi ini. Namun
aku lebih memilih di kamar dan sekedar membaca, menulis, atau mendengarkan
alunan ayat suci Al quran dari laptop yang kubeli dengan uang tabunganku. Aku memang
mahasiswi pendidikan dokter tetapi tidak seperti teman-teman yang mudah
mengeluarkan uang, orang tuaku tidak demikian. Mereka berdua lebih memilih
berhemat dari pada berfoya-foya. Tapi hematnya mereka itu membuahkan hasil yang
sangat baik. Keempat anaknya termasuk aku dapat menempuh pendidikan yang
seharusnya didapat.
Kembali ke inti di paragraf
ini yang ingin aku ceritakan mengenai kejadian kemarin malam. Aku yang
sendirian dan menempati tempat tidurku yang terletak di susun teratas, satu
kamar dari asrama ini meemiliki masing-masing 2 paket ranjang tersusun 2 kasur.
Tepatnya malam itu adalah ba’da maghrib menjelang adzan isya, aku merasakan
guncangan di ranjangku dengan berpusat pada satu kaki ranjang saja yang
digerakkan, yaitu kaki ranjang yang tidak berhimpit dengan didinding kamar. Aku
yang sendirian, merasakan keanehan itu terjadi dua kali. Rasa was-was, khawatir
jatuh, dan sedikit takut hinggap di tubuhku yang memiliki tinggi sekitar 163
cm.
Aku kemudian memulai
membaca ayat Al quran yang aku hafal. Hatiku sudah mulai mengusir “gangguan”
yang kurasa adalah gangguan makhluk halus yang memang begitu pekerjaannya. Namun,
keanehan itu terjawab karena para penghuni asrama tingkat 5 kemudian keluar dan
saling mengatakan “ada gempa, ada gempa”. Syukur lah keanehan ini terjawab
meskipun aku sendiri masih was-was dengan gempa yang sumbernya dari Sukabumi
dengan kekuatan 6,1skala richter. Teman-temanku yang merasa panik dengan gempa
yang sebentar kemudian menuruni tangga menuju lantai dasar bersama dua orang
temanku yang lain.
Aku menulis tulisan ini
pun masih cenderung bingung memberi judul. Karena keanehan yang kualami
seminggu yang lalu tak dapat dibuktikan dan masih tanda tanya besar akan
penyebabnya. Keanehan itu kualami siang hari pada 30 Mei 2012. Kala itu aku
sedang sendiri di kamar karena 3 temanku pergi ke daerah Senen untuk membeli
pakaian yang dipakai pada acara seni kemarin. Sekitar pukul 11 setelah kuliah
paginya aku istirahat di kamar untuk menyiapkan yang akan dibawa untuk kuliah
pukul 13.00 dan menikmati makan siang. Setelah makan aku cuci tangan dan merasakan
peluh di tubuhku banyak keluar. Mungkin sel-sel di tubuhku sedang menjalankan
fungsi metabolismenya setelah mendapat pasokan nutrisi.
Baju yang aku kenakan
mulai basah dengan keringat. Akhirnya kuputuskan untuk menyalakan salah satu kipas
angin yang ada di kamarku. Kipas angin
itu kuarahkan ke ranjangku yang berada di susun kedua. Aku kembali mengerjakan
tugasku menyiapkan untuk kuliah nanti. Namun, setelah beberapa menit aku di
ranjangku, hal aneh itu muncul tanpa sebab
dan tak masuk di akal. Kipas angin yang kuputar ke petunjuk ON beberapa
menit sebelumnya itu tiba-tiba mati. Tanpa sebab. Listrik tidak mati, listrik
tidak anjlok, kabel tidak bergeser, bahkan tak ada orang selain aku di kamar
itu. Aku semakin merasa kaget setelah melihat ke arah kipas angin itu dengan
petunjuk mengarah kepada tulisan OFF. Harusnya bila memang kipas angin itu mati
karena rusak, petunjuknya masih dalam keadaan ON, dan itu tidak membuatku
sangat heran, bingung, dan sedikit takut. Dan seharusnya bila memang asrama sedang
padam listrik, petunjuk kipas masih dalam keadaan ON dan tidak OFF seperti
nyatanya. Aku masih bingung hingga sekarang karena kipas itu ternyata tidak
rusak setelah itu aku mencoba memberanikan diri untuk menyalakan lagi. Ditambah
lagi aku mendengar permulaan matinya kipas angin itu seperti ada bunyi “tek” seperti orang biasa memutar kipas
angin.
Sungguh kejadian itu
adalah salah satu kejadian aneh di asrama yang tak terjawab hingga sekarang. Setelah
kejadian matinya kipas angin secara mendadak kemudian aku langsung menceritakan
kepada orang yang telah melahirkanku melalui telepon. Nasihat beliau adalah membaca
ayat Al quran agar tak semakin diganggu makhluk iseng itu. Itu lah senjata terampuh.
Penulis : Aisyah Nurul Sarah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar