Selasa, 05 Juni 2012


Keanehan yang Terjawab dan Tak Tejawab

Kemarin adalah hari Senin, 4 Juni 2012. Malam itu aku sedang menikmati kesendirianku dengan membaca buku yang bertuliskan “Immunologi Dasar” di covernya yang berwarna biru laut. Aku sendiri karena teman-temanku sedang menghadiri acara seni yang diadakan oleh mahasiswa kedokteran dari kampusku guna refreshing sejenak di tengah penatnya dunia perkuliahan di kedokteran ini. Kamarku yang terletak di asrama putri tingkat 4 merupakan 1 dari 3 kamar yang terdapat penghuni manusianya. Sisanya yang 21 kamar adalah kosong karena hampir semua menghadiri acara bergengsi ini. Namun aku lebih memilih di kamar dan sekedar membaca, menulis, atau mendengarkan alunan ayat suci Al quran dari laptop yang kubeli dengan uang tabunganku. Aku memang mahasiswi pendidikan dokter tetapi tidak seperti teman-teman yang mudah mengeluarkan uang, orang tuaku tidak demikian. Mereka berdua lebih memilih berhemat dari pada berfoya-foya. Tapi hematnya mereka itu membuahkan hasil yang sangat baik. Keempat anaknya termasuk aku dapat menempuh pendidikan yang seharusnya didapat.

Kembali ke inti di paragraf ini yang ingin aku ceritakan mengenai kejadian kemarin malam. Aku yang sendirian dan menempati tempat tidurku yang terletak di susun teratas, satu kamar dari asrama ini meemiliki masing-masing 2 paket ranjang tersusun 2 kasur. Tepatnya malam itu adalah ba’da maghrib menjelang adzan isya, aku merasakan guncangan di ranjangku dengan berpusat pada satu kaki ranjang saja yang digerakkan, yaitu kaki ranjang yang tidak berhimpit dengan didinding kamar. Aku yang sendirian, merasakan keanehan itu terjadi dua kali. Rasa was-was, khawatir jatuh, dan sedikit takut hinggap di tubuhku yang memiliki tinggi sekitar 163 cm.

Aku kemudian memulai membaca ayat Al quran yang aku hafal. Hatiku sudah mulai mengusir “gangguan” yang kurasa adalah gangguan makhluk halus yang memang begitu pekerjaannya. Namun, keanehan itu terjawab karena para penghuni asrama tingkat 5 kemudian keluar dan saling mengatakan “ada gempa, ada gempa”. Syukur lah keanehan ini terjawab meskipun aku sendiri masih was-was dengan gempa yang sumbernya dari Sukabumi dengan kekuatan 6,1skala richter. Teman-temanku yang merasa panik dengan gempa yang sebentar kemudian menuruni tangga menuju lantai dasar bersama dua orang temanku yang lain.
Aku menulis tulisan ini pun masih cenderung bingung memberi judul. Karena keanehan yang kualami seminggu yang lalu tak dapat dibuktikan dan masih tanda tanya besar akan penyebabnya. Keanehan itu kualami siang hari pada 30 Mei 2012. Kala itu aku sedang sendiri di kamar karena 3 temanku pergi ke daerah Senen untuk membeli pakaian yang dipakai pada acara seni kemarin. Sekitar pukul 11 setelah kuliah paginya aku istirahat di kamar untuk menyiapkan yang akan dibawa untuk kuliah pukul 13.00 dan menikmati makan siang. Setelah makan aku cuci tangan dan merasakan peluh di tubuhku banyak keluar. Mungkin sel-sel di tubuhku sedang menjalankan fungsi metabolismenya setelah mendapat pasokan nutrisi.

Baju yang aku kenakan mulai basah dengan keringat. Akhirnya kuputuskan untuk menyalakan salah satu kipas angin  yang ada di kamarku. Kipas angin itu kuarahkan ke ranjangku yang berada di susun kedua. Aku kembali mengerjakan tugasku menyiapkan untuk kuliah nanti. Namun, setelah beberapa menit aku di ranjangku, hal aneh itu muncul tanpa sebab  dan tak masuk di akal. Kipas angin yang kuputar ke petunjuk ON beberapa menit sebelumnya itu tiba-tiba mati. Tanpa sebab. Listrik tidak mati, listrik tidak anjlok, kabel tidak bergeser, bahkan tak ada orang selain aku di kamar itu. Aku semakin merasa kaget setelah melihat ke arah kipas angin itu dengan petunjuk mengarah kepada tulisan OFF. Harusnya bila memang kipas angin itu mati karena rusak, petunjuknya masih dalam keadaan ON, dan itu tidak membuatku sangat heran, bingung, dan sedikit takut. Dan seharusnya bila memang asrama sedang padam listrik, petunjuk kipas masih dalam keadaan ON dan tidak OFF seperti nyatanya. Aku masih bingung hingga sekarang karena kipas itu ternyata tidak rusak setelah itu aku mencoba memberanikan diri untuk menyalakan lagi. Ditambah lagi aku mendengar permulaan matinya kipas angin itu seperti ada bunyi “tek” seperti orang biasa memutar kipas angin.

Sungguh kejadian itu adalah salah satu kejadian aneh di asrama yang tak terjawab hingga sekarang. Setelah kejadian matinya kipas angin secara mendadak kemudian aku langsung menceritakan kepada orang yang telah melahirkanku melalui telepon. Nasihat beliau adalah membaca ayat Al quran agar tak semakin diganggu makhluk iseng itu. Itu lah senjata terampuh.

Penulis : Aisyah Nurul Sarah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar