Aneka Joke Perkuliahan Cadok (Calon Dokter)
Kuliah di kedokteran
itu nano-nano, ada sukanya ada juga dukanya. Ada enaknya ada juga gak enaknya. Ada lucunya tapi ada juga
yang bikin kesal. Atau bahkan ada lawakan konyol tapi ada juga yang mendekati
ke arah spiritual. Orang-orangnya juga nano-nano ada yang macho (tipe ini
mandiri nd cool abis dah), ada yang klemar-klemer (mendekati lemot, kuper,
atau sejenisnya), ada yang kelihatan lola (loading lama), ada yang kelihatan
intelek banget (ciri ini pakai
kacamata, baju rapih, dan IPK tinggi), atau bahkan ada yang melawan takdir
(alias cewenya tomboy, cowonya kemayu).
Akibat dari varian
komponen anak kedokteran, ceritanya juga macam-macam. Ada yang lucu,
malu-maluin, sampai ada yang dapat spiritual experiment semacam hidayah gitu lah. Nah, aku mau certain yang
lucu-lucu dulu deh. Karena ini yang
buat fakultas kedokteran tuh menarik.
Buat pengetahuan saja, di program studi kedokteran itu varian studinya bisa
dari :
1.
Kuliah tatap muka. Metode ini standar
lah kayak program studi lain. Yang
membedakan paling pengajarnya saja, jurusan kedokteran yang mengajar ya jelas
para dokter ahli.
2.
CSL (Clinical Skill Lab). Di CSL ini
calon dokter dididik harus profesional di klinik praktik nantinya.
3.
Praktikum. Seperti dari fakultas MIPA
yang harus bereksperimen untuk membuktikan ilmunya. Di bidang kedokteran
praktikumnya berupa uji diagnostik yang mempergunakan laboratorium sebagai
fasilitasnya. Yang paling terkenal dan membedakan praktikum kedokteran adalah
bedah cadaver (baca:mayat).
4.
PBL (Problem Based Learning). Merupakan
wadah diskusi mahasiswa kedokteran dalam memecahkan kasus yang biasa muncul.
Nah biasanya dari PBL lah ilmu kedokteran mereka banyak yang menempel, karena
di PBL mereka harus mendengar, menjelaskan, dan pastinya harus paham agar
nilainya bagus.
5.
Journal reading. Maksudnya mahasiswa
dilatih untuk belajar sepanjang hayat dengan ilmu yang sedang berkembang dan
terbaru. Ga nanggung-nanggung, bacaan
jurnalnya itu dari bahasa Inggris dicampur bahasa ilmiah ditambah bahasa
kedokteran yang kebanyakan dari bahasa Yunani.
Dari kelima metode yang
ditawarkan faskultas yang tergolong elit itu, banyak yang menurut kami para
cadok (baca:calon dokter) menjadi tertawa.
Salah satunya waktu aku
kuliah di bangku semester 2 tepatnya saat menjalani sistem respirasi. Saat itu
aku masih berusia 18 tahun, setahun lebih muda dari teman kebanyakan. Ini
merupakan cerita dari pengalaman dokter yang mengajar kala itu. Dokter
perempuan yang dari logatnya sudah bisa ditebak kalau beliau berasal dari Jawa
Tengah. Keibuan dan agak lama bicaranya seperti putri Solo yang sedang
menyinden, kadang bikin mahasiswanya terkantuk dengan suaranya itu. Tapi
begitu-begitu beliau adalah ahli mikrobiologi satu-satunya di kampusku. Jago
kalau sudah bicara kuman dan koloninya. Langsung saja, begini ceritanya :
Karena lagi sistem
respirasi, ceritanya gak jauh-jauh
sama penyakit paru-paru. Bu dokter mulai bercerita, “Saya pernah mendapat
pasien di klinik, pasien itu ibu-ibu 40 tahun yang mengeluhkan sesak bila
bernapas. Riwayat merokok sudah lama dengan satu bungkus setiap harinya, dan
sekarang dikurangi menjadi setengah bungkus kira-kira. Napasnya berat, bibir
sangat gelap, badan gemuk. Ketika saya tanya keluhannya, jawabannya begini :
Pasien : ‘Gak
papa saya, Dok. Cuma mau kontrol.’
Dokter : ‘Bener
ndak papa, Bu? Wong itu ibu
keliatan sesak kok.’ (dalam hati saya
ini pasien berlaga wong sugih pake
kontrol segala, padahal keliatannya badan gak
keurus gitu tapi ya saya maklumi)
Pasien : ‘Iya Dok, saya sering batuk-batuk
sekarang-sekarang ini.”
Dokter : (cape
deh…baru ngaku) ‘Oh iya ya, Bu? Sejak kapan batuknya?’ (tanya saya yang
seperti biasa harus ramah).
Pasien : ‘Anu
Dok, sejak saya jarang merokok lagi, Dok.’
Dokter : ‘Oh merokok toh, Bu? Dulu biasanya abis
berapa bungkus?’
Pasien : ‘Sebungkus aja, Dok.’
Dokter : ‘Sekarang?’
Pasien : ‘Setengah bungkus doank, Dok.’
Dokter : (dalam hati lagi saya heran, kok setengah
bungkus dibilang jarang)
Pasien : ‘Karena itu, Dok. Saya datang ke sini mau Kontrol
Dok. Takut kena paru-paru basah kayak
ayah saya dulu’
Dokter : (sambil tersenyum saya keluarkan joke biar
pasien menjadi sedikit ringan penderitaannya) ‘Bu, paru-paru manusia memang
basah kok. Kalau gak basah, namanya ya keripik paru donk.’ (saya dan pasien sama-sama tertawa, kayaknya pasien tahu
panganan keripik yang bahan aslinya paru sapi itu).”
Aku dan teman-teman
yang mendengar lawakan itu tertawa. Jadi lah ruang kuliah itu bising dengan
tawa kami. Yang mengantuk menjadi segar kembali. Kami paham maksud dokter yang
berinisial JTR itu. Parenkim paru-paru memang dilewati banyak pembuluh darah.
Alveoli tepatnya tempat pertukaran gas CO2 dan O2 yang
kemudian dibawa darah dari dan menuju jantung. Maka bila dilakukan diseksi
(baca:penyayatan) dilakukan pada organ yang dikenal dengan istilah pulmo itu
akan keluar berupa darah yang kita tahu berbentuk cair. Itulah yang menyebabkan
paru-paru tampak basah. Sedangkan keripik paru merupakan panganan tradisional
yang dibuat dari paru sapi yang sudah dikeringkan, dijemur, dan digoreng hingga
garing.
Terkadang joke seperti
itu handal untuk membangunkan mahasiswa yang tertidur saat kuliah berlangsung.
Dan yang lebih penting bisa membuat pasien tertawa itu dapat mendongkrak
psikologi pasien yang kemungkinan buruk karena sakit yang dideritanya.
Ada lagi joke datang
dari dokter spesialis anak yang juga sedang mengisi kuliah pada sistem
respirasi. Beliau mengingatkan bahwa seorang dokter harus bisa membedakan
pasien dengan sesak karena penyakit respirasi dan karena penyakit
kardiovaskuler karena tanda-tandanya sama-sama sesak napas. Kemudian beliau
memaparkan ceritanya.
“Saya pernah dapat
pasien Anak laki-laki usia 4 tahun datang dengan ibunya yang mengeluhkan anak
pertamanya itu sudah dua hari mengalami sukar bernapas. Ketika dianamnesis,
ibunya memberikan info seperti ini :
Ibu
pasien : ‘Saya takut, Dok. Kalau
anak saya sesak napas karena ada jantung seperti almarhum kakeknya yang meninggal
punya jantung juga.’
Dokter : ‘Sudah dua bulan ya, Bu? Ibu
tidak usah terlalu khawatir, Bu. Anak
ibu tampak sehat. Lagipula tadi ibu bilang anak ibu punya jantung. Saya juga
punya, Bu. Kalau gak punya itu gak hidup, Bu. Kalau maksud ibu itu
penyakit jantung, bisa dicegah kok, Bu. Alat semakin canggih dan anak ibu masih
terlalu muda sehingga belum kronis seperti almarhum kakeknya. Tenang saja, asal
berdoa dan berikhtiar.’ (kata saya sambil tersenyum).”
Kami pun tertawa dengan
lawakan dokter yang memiliki selera humor tinggi tersebut. Ibu pasien jadi
lebih tenang dan merasa yakin ucapan dokter spesialis anak ini yang mengatakan
anaknya sehat. Kesalahan jawaban pasien dapat menjadi guyonan menarik dari
pembicaraan dokter dan pasien. Memang di masyarakat tersebar istilah-istilah
demikian yang kadang membuat lucu di lingkungan kedokteran. Kata-kata
“paru-paru basah” dan “jantung” pada penyakit jantung adalah joke yang kuingat
dan kuambil pelajaran berkomunikasi yang baik dengan pasien.
Penulis : Aisyah Nurul Sarah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar