Senin, 25 Juni 2012


Aneka Joke Perkuliahan Cadok (Calon Dokter)

Kuliah di kedokteran itu nano-nano, ada sukanya ada juga dukanya. Ada enaknya ada juga gak enaknya. Ada lucunya tapi ada juga yang bikin kesal. Atau bahkan ada lawakan konyol tapi ada juga yang mendekati ke arah spiritual. Orang-orangnya juga nano-nano ada yang macho (tipe ini mandiri nd cool abis dah), ada yang klemar-klemer (mendekati lemot, kuper, atau sejenisnya), ada yang kelihatan lola (loading lama), ada yang kelihatan intelek banget (ciri ini pakai kacamata, baju rapih, dan IPK tinggi), atau bahkan ada yang melawan takdir (alias cewenya tomboy, cowonya kemayu).
Akibat dari varian komponen anak kedokteran, ceritanya juga macam-macam. Ada yang lucu, malu-maluin, sampai ada yang dapat spiritual experiment semacam hidayah gitu lah. Nah, aku mau certain yang lucu-lucu dulu deh. Karena ini yang buat fakultas kedokteran tuh menarik. Buat pengetahuan saja, di program studi kedokteran itu varian studinya bisa dari :
1.      Kuliah tatap muka. Metode ini standar lah kayak program studi lain. Yang membedakan paling pengajarnya saja, jurusan kedokteran yang mengajar ya jelas para dokter ahli.
2.      CSL (Clinical Skill Lab). Di CSL ini calon dokter dididik harus profesional di klinik praktik nantinya.
3.      Praktikum. Seperti dari fakultas MIPA yang harus bereksperimen untuk membuktikan ilmunya. Di bidang kedokteran praktikumnya berupa uji diagnostik yang mempergunakan laboratorium sebagai fasilitasnya. Yang paling terkenal dan membedakan praktikum kedokteran adalah bedah cadaver (baca:mayat).
4.      PBL (Problem Based Learning). Merupakan wadah diskusi mahasiswa kedokteran dalam memecahkan kasus yang biasa muncul. Nah biasanya dari PBL lah ilmu kedokteran mereka banyak yang menempel, karena di PBL mereka harus mendengar, menjelaskan, dan pastinya harus paham agar nilainya bagus.
5.      Journal reading. Maksudnya mahasiswa dilatih untuk belajar sepanjang hayat dengan ilmu yang sedang berkembang dan terbaru. Ga nanggung-nanggung, bacaan jurnalnya itu dari bahasa Inggris dicampur bahasa ilmiah ditambah bahasa kedokteran yang kebanyakan dari bahasa Yunani.
Dari kelima metode yang ditawarkan faskultas yang tergolong elit itu, banyak yang menurut kami para cadok (baca:calon dokter) menjadi tertawa.
Salah satunya waktu aku kuliah di bangku semester 2 tepatnya saat menjalani sistem respirasi. Saat itu aku masih berusia 18 tahun, setahun lebih muda dari teman kebanyakan. Ini merupakan cerita dari pengalaman dokter yang mengajar kala itu. Dokter perempuan yang dari logatnya sudah bisa ditebak kalau beliau berasal dari Jawa Tengah. Keibuan dan agak lama bicaranya seperti putri Solo yang sedang menyinden, kadang bikin mahasiswanya terkantuk dengan suaranya itu. Tapi begitu-begitu beliau adalah ahli mikrobiologi satu-satunya di kampusku. Jago kalau sudah bicara kuman dan koloninya. Langsung saja, begini ceritanya :
Karena lagi sistem respirasi, ceritanya gak jauh-jauh sama penyakit paru-paru. Bu dokter mulai bercerita, “Saya pernah mendapat pasien di klinik, pasien itu ibu-ibu 40 tahun yang mengeluhkan sesak bila bernapas. Riwayat merokok sudah lama dengan satu bungkus setiap harinya, dan sekarang dikurangi menjadi setengah bungkus kira-kira. Napasnya berat, bibir sangat gelap, badan gemuk. Ketika saya tanya keluhannya, jawabannya begini :
Pasien  : ‘Gak papa saya, Dok. Cuma mau kontrol.’
Dokter : ‘Bener ndak papa, Bu? Wong itu ibu keliatan sesak kok.’ (dalam hati saya ini pasien berlaga wong sugih pake kontrol segala, padahal keliatannya badan gak keurus gitu tapi ya saya maklumi)
Pasien  : ‘Iya Dok, saya sering batuk-batuk sekarang-sekarang ini.”
Dokter : (cape deh…baru ngaku) ‘Oh iya ya, Bu? Sejak kapan batuknya?’ (tanya saya yang seperti biasa harus ramah).
Pasien  : ‘Anu Dok, sejak saya jarang merokok lagi, Dok.’
Dokter : ‘Oh merokok toh, Bu? Dulu biasanya abis berapa bungkus?’
Pasien  : ‘Sebungkus aja, Dok.’
Dokter : ‘Sekarang?’
Pasien  : ‘Setengah bungkus doank, Dok.’
Dokter : (dalam hati lagi saya heran, kok setengah bungkus dibilang jarang)
Pasien  : ‘Karena itu, Dok. Saya datang ke sini mau Kontrol Dok. Takut kena paru-paru basah kayak ayah saya dulu’
Dokter : (sambil tersenyum saya keluarkan joke biar pasien menjadi sedikit ringan penderitaannya) ‘Bu, paru-paru manusia memang basah kok. Kalau gak basah, namanya ya keripik paru donk.’ (saya dan pasien sama-sama tertawa, kayaknya pasien tahu panganan keripik yang bahan aslinya paru sapi itu).”

Aku dan teman-teman yang mendengar lawakan itu tertawa. Jadi lah ruang kuliah itu bising dengan tawa kami. Yang mengantuk menjadi segar kembali. Kami paham maksud dokter yang berinisial JTR itu. Parenkim paru-paru memang dilewati banyak pembuluh darah. Alveoli tepatnya tempat pertukaran gas CO2 dan O2 yang kemudian dibawa darah dari dan menuju jantung. Maka bila dilakukan diseksi (baca:penyayatan) dilakukan pada organ yang dikenal dengan istilah pulmo itu akan keluar berupa darah yang kita tahu berbentuk cair. Itulah yang menyebabkan paru-paru tampak basah. Sedangkan keripik paru merupakan panganan tradisional yang dibuat dari paru sapi yang sudah dikeringkan, dijemur, dan digoreng hingga garing.
Terkadang joke seperti itu handal untuk membangunkan mahasiswa yang tertidur saat kuliah berlangsung. Dan yang lebih penting bisa membuat pasien tertawa itu dapat mendongkrak psikologi pasien yang kemungkinan buruk karena sakit yang dideritanya.
Ada lagi joke datang dari dokter spesialis anak yang juga sedang mengisi kuliah pada sistem respirasi. Beliau mengingatkan bahwa seorang dokter harus bisa membedakan pasien dengan sesak karena penyakit respirasi dan karena penyakit kardiovaskuler karena tanda-tandanya sama-sama sesak napas. Kemudian beliau memaparkan ceritanya.
“Saya pernah dapat pasien Anak laki-laki usia 4 tahun datang dengan ibunya yang mengeluhkan anak pertamanya itu sudah dua hari mengalami sukar bernapas. Ketika dianamnesis, ibunya memberikan info seperti ini :
Ibu pasien        : ‘Saya takut, Dok. Kalau anak saya sesak napas karena ada jantung seperti almarhum kakeknya yang meninggal punya jantung juga.’
Dokter             : ‘Sudah dua bulan ya, Bu? Ibu tidak usah terlalu khawatir, Bu. Anak ibu tampak sehat. Lagipula tadi ibu bilang anak ibu punya jantung. Saya juga punya, Bu. Kalau gak punya itu gak hidup, Bu. Kalau maksud ibu itu penyakit jantung, bisa dicegah kok, Bu. Alat semakin canggih dan anak ibu masih terlalu muda sehingga belum kronis seperti almarhum kakeknya. Tenang saja, asal berdoa dan berikhtiar.’ (kata saya sambil tersenyum).”
Kami pun tertawa dengan lawakan dokter yang memiliki selera humor tinggi tersebut. Ibu pasien jadi lebih tenang dan merasa yakin ucapan dokter spesialis anak ini yang mengatakan anaknya sehat. Kesalahan jawaban pasien dapat menjadi guyonan menarik dari pembicaraan dokter dan pasien. Memang di masyarakat tersebar istilah-istilah demikian yang kadang membuat lucu di lingkungan kedokteran. Kata-kata “paru-paru basah” dan “jantung” pada penyakit jantung adalah joke yang kuingat dan kuambil pelajaran berkomunikasi yang baik dengan pasien.

Penulis : Aisyah Nurul Sarah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar