Kamis, 28 Juni 2012

Sesosok Wanita yang Dipanggil "Ibu"

Malam hari aku membuat tulisan ini aku sedang merindukan sesosok wanita yang penuh pengorbanan mengeluarkanku dari uterus 18 tahun lebih 8 bulan yang lampau. Kalau aku ingat apa yang dilakukannya demi aku, tak kusadari air mata mengalir melewati pipiku. Aku takut sekali untuk kehilangan seorang wanita tangguh yang amat berbeda dari kebanyakan ibu-ibu di dunia ini. Dengan mengingatnya saja aku bisa menangis apalagi ketika ia sedang kecewa terhadapku. Ada lagi yang bisa membuatku menangis, yaitu ketika wanita yang kupanggil ‘mama’ juga tengah menangis, entah karena sedang menceritakan kisahnya yang tak menyenangkan ataupun karena sedang tak kuat menahan sakit. Jarang sekali ia mengeluh. Namun, tak jarang ia menangis karena sebab tertentu. Entah karena sedang kecewa atau rindu dengan anak-anaknya. Atau setelah dibentak oleh suaminya yang memang menderita hipertensi. Atau aku ingat sekali ketika ia meneteskan air matanya karena melihatku lemas di klinik karena menderita gastritis akut yang membuatku tak kuat menahan sakit kepala kausa gastritis akut tersebut.

Di mataku, ibuku pandai melakukan apa pun. Mulai dari memasak, menjahit, mengendarai sepeda motor, mengetahui obat dari beberapa penyakit beserta terapi non medikamentosa (walaupun bukan dokter) hingga memperbaiki alat-alat rumah tangga, alat elektrik, bahkan alat otomotif sederhana.

Aku rasa, hampir semua ibu melakukan hal yang hebat terutama untuk anak-anaknya. Dan ibuku lah yang kurasa paling hebat. Pernah suatu kali aku sedang mengadakan perjalanan ke suatu daerah di Jakarta Selatan dengan menggunakan bus kota yang banyak mengeluarkan asap polusinya. Asap polusi dari bus umum yang kutumpangi tersebut bukan satu-satunya yang keluar dari knalpot, karena hampir semua bus di Jakarta dapat menyebabkan penyakit paru-paru. Di ujung persimpangan jalan di daerah ulujami aku melihat seorang ibu setengah baya tengah menggendong anak balitanya dengan kain batik. Setelah bus yang aku tumpangi melewati pasangan ibu dan anak tersebut dengan asapnya yang pekat, sang ibu tak berrespon menutup hidungnya untuk mencegah asap masuk ke cavum nasi (rongga hidung).

Namun, mungkin karena aku belum pernah merasakan menjadi seorang ibu, tak kusangka sang ibu tersebut tak melindungi tractus respiratorius (saluran pernapasan)nya karena kedua tangannya digunakan untuk melindungi buah hatinya itu. Tangan kirinya mengibas agar asap tak berani mendekati sang anak, sedang tangan kanannya bertugas sebagai masker yang menutupi hidung beserta mulut anak laki-laki yang digendongnya. Sungguh pemandangan bagus yang natural. Mungkin bila ada lomba fotografi, dan ada yang mengambil gambar tersebut, orang tersebut pasti akan menang atau terkenal. Seperti karya fotografi terkenal dari Kevin Carter yang mengambil foto anak kelaparan yang kematiannya sudah dinantikan burung pemakan bangkai di Sudan. Ibu dan anak tersebut tak hanya menampilkan naturalnya, tetapi juga memberikan efek kasih sayang seorang ibu untuk buah hatinya.

Banyak lagi kisah menarik antara ibu dan anak di dunia ini yang mengharukan. Salah satunya ketika kejadian bencana tornado yang menewaskan seorang ibu karena rumahnya ikut tersapu oleh kejamnya tornado. Namun, kejadian di Florida itu sungguh menunjukkan perjuangan ibu agar anaknya tetap dapat hidup. Berikut artikel yang menceritakan kisah mereka.

TEMPO.CO, Florida - Seorang balita di Florida, Amerika Serikat, secara ajaib ditemukan dalam keadaan hidup dalam pelukan ibunya. Mereka diketahui terlempar sekitar 60 meter dari rumah mereka yang hancur setelah tornado menerjang.
Fox News melaporkan sang ibu, Heather Town, 32 tahun, ditemukan tewas. Ia terlempar ke semak-semak di daerah berhutan setelah tornado menghantam rumah mobilnya dan membuatnya hancur tak berbentuk. Para tetangganya mampu menemukan Town setelah mereka mendengar Annemarie, anaknya yang berusia tiga tahun, menangis.
"Ketika mereka menemukannya, ia benar-benar memeluk gadis kecilnya," kata saksi mata, Kim Bass. "Mereka mengambil anak kecil darinya karena sang anak mengalami kesulitan bernafas."
Town, ibu dari tiga anak, dinyatakan meninggal di lokasi kejadian. Ayahnya, Elmer Town, mengatakan sang cucu, Annemarie, dalam kondisi stabil dengan tulang rusuk dan tulang panggul patah. Dia mengatakan tindakan terakhir putrinya menunjukkan betapa dia mencintai anak-anaknya.
"Kami tahu dia memegangi anaknya dan menyelamatkan hidupnya dan itu tipe dia," kata Elmer Town.
Crystal Town mengatakan adiknya adalah seorang wanita pemberani. "Dia mencintai anak-anaknya lebih dari segalanya," katanya.
Rumah mobil Heather Town hancur oleh tornado. Kantor sheriff Highlands County mengatakan kepada Associated Press bahwa tornado bergerak melalui daerah tenggara dari Tampa, merusak apa saja yang dilewatinya.

Sungguh, sesosok ibu di dunia adalah sebagai malaikat yang melindungi anaknya.

Penulis : Aisyah Nurul Sarah

Senin, 25 Juni 2012


Aneka Joke Perkuliahan Cadok (Calon Dokter)

Kuliah di kedokteran itu nano-nano, ada sukanya ada juga dukanya. Ada enaknya ada juga gak enaknya. Ada lucunya tapi ada juga yang bikin kesal. Atau bahkan ada lawakan konyol tapi ada juga yang mendekati ke arah spiritual. Orang-orangnya juga nano-nano ada yang macho (tipe ini mandiri nd cool abis dah), ada yang klemar-klemer (mendekati lemot, kuper, atau sejenisnya), ada yang kelihatan lola (loading lama), ada yang kelihatan intelek banget (ciri ini pakai kacamata, baju rapih, dan IPK tinggi), atau bahkan ada yang melawan takdir (alias cewenya tomboy, cowonya kemayu).
Akibat dari varian komponen anak kedokteran, ceritanya juga macam-macam. Ada yang lucu, malu-maluin, sampai ada yang dapat spiritual experiment semacam hidayah gitu lah. Nah, aku mau certain yang lucu-lucu dulu deh. Karena ini yang buat fakultas kedokteran tuh menarik. Buat pengetahuan saja, di program studi kedokteran itu varian studinya bisa dari :
1.      Kuliah tatap muka. Metode ini standar lah kayak program studi lain. Yang membedakan paling pengajarnya saja, jurusan kedokteran yang mengajar ya jelas para dokter ahli.
2.      CSL (Clinical Skill Lab). Di CSL ini calon dokter dididik harus profesional di klinik praktik nantinya.
3.      Praktikum. Seperti dari fakultas MIPA yang harus bereksperimen untuk membuktikan ilmunya. Di bidang kedokteran praktikumnya berupa uji diagnostik yang mempergunakan laboratorium sebagai fasilitasnya. Yang paling terkenal dan membedakan praktikum kedokteran adalah bedah cadaver (baca:mayat).
4.      PBL (Problem Based Learning). Merupakan wadah diskusi mahasiswa kedokteran dalam memecahkan kasus yang biasa muncul. Nah biasanya dari PBL lah ilmu kedokteran mereka banyak yang menempel, karena di PBL mereka harus mendengar, menjelaskan, dan pastinya harus paham agar nilainya bagus.
5.      Journal reading. Maksudnya mahasiswa dilatih untuk belajar sepanjang hayat dengan ilmu yang sedang berkembang dan terbaru. Ga nanggung-nanggung, bacaan jurnalnya itu dari bahasa Inggris dicampur bahasa ilmiah ditambah bahasa kedokteran yang kebanyakan dari bahasa Yunani.
Dari kelima metode yang ditawarkan faskultas yang tergolong elit itu, banyak yang menurut kami para cadok (baca:calon dokter) menjadi tertawa.
Salah satunya waktu aku kuliah di bangku semester 2 tepatnya saat menjalani sistem respirasi. Saat itu aku masih berusia 18 tahun, setahun lebih muda dari teman kebanyakan. Ini merupakan cerita dari pengalaman dokter yang mengajar kala itu. Dokter perempuan yang dari logatnya sudah bisa ditebak kalau beliau berasal dari Jawa Tengah. Keibuan dan agak lama bicaranya seperti putri Solo yang sedang menyinden, kadang bikin mahasiswanya terkantuk dengan suaranya itu. Tapi begitu-begitu beliau adalah ahli mikrobiologi satu-satunya di kampusku. Jago kalau sudah bicara kuman dan koloninya. Langsung saja, begini ceritanya :
Karena lagi sistem respirasi, ceritanya gak jauh-jauh sama penyakit paru-paru. Bu dokter mulai bercerita, “Saya pernah mendapat pasien di klinik, pasien itu ibu-ibu 40 tahun yang mengeluhkan sesak bila bernapas. Riwayat merokok sudah lama dengan satu bungkus setiap harinya, dan sekarang dikurangi menjadi setengah bungkus kira-kira. Napasnya berat, bibir sangat gelap, badan gemuk. Ketika saya tanya keluhannya, jawabannya begini :
Pasien  : ‘Gak papa saya, Dok. Cuma mau kontrol.’
Dokter : ‘Bener ndak papa, Bu? Wong itu ibu keliatan sesak kok.’ (dalam hati saya ini pasien berlaga wong sugih pake kontrol segala, padahal keliatannya badan gak keurus gitu tapi ya saya maklumi)
Pasien  : ‘Iya Dok, saya sering batuk-batuk sekarang-sekarang ini.”
Dokter : (cape deh…baru ngaku) ‘Oh iya ya, Bu? Sejak kapan batuknya?’ (tanya saya yang seperti biasa harus ramah).
Pasien  : ‘Anu Dok, sejak saya jarang merokok lagi, Dok.’
Dokter : ‘Oh merokok toh, Bu? Dulu biasanya abis berapa bungkus?’
Pasien  : ‘Sebungkus aja, Dok.’
Dokter : ‘Sekarang?’
Pasien  : ‘Setengah bungkus doank, Dok.’
Dokter : (dalam hati lagi saya heran, kok setengah bungkus dibilang jarang)
Pasien  : ‘Karena itu, Dok. Saya datang ke sini mau Kontrol Dok. Takut kena paru-paru basah kayak ayah saya dulu’
Dokter : (sambil tersenyum saya keluarkan joke biar pasien menjadi sedikit ringan penderitaannya) ‘Bu, paru-paru manusia memang basah kok. Kalau gak basah, namanya ya keripik paru donk.’ (saya dan pasien sama-sama tertawa, kayaknya pasien tahu panganan keripik yang bahan aslinya paru sapi itu).”

Aku dan teman-teman yang mendengar lawakan itu tertawa. Jadi lah ruang kuliah itu bising dengan tawa kami. Yang mengantuk menjadi segar kembali. Kami paham maksud dokter yang berinisial JTR itu. Parenkim paru-paru memang dilewati banyak pembuluh darah. Alveoli tepatnya tempat pertukaran gas CO2 dan O2 yang kemudian dibawa darah dari dan menuju jantung. Maka bila dilakukan diseksi (baca:penyayatan) dilakukan pada organ yang dikenal dengan istilah pulmo itu akan keluar berupa darah yang kita tahu berbentuk cair. Itulah yang menyebabkan paru-paru tampak basah. Sedangkan keripik paru merupakan panganan tradisional yang dibuat dari paru sapi yang sudah dikeringkan, dijemur, dan digoreng hingga garing.
Terkadang joke seperti itu handal untuk membangunkan mahasiswa yang tertidur saat kuliah berlangsung. Dan yang lebih penting bisa membuat pasien tertawa itu dapat mendongkrak psikologi pasien yang kemungkinan buruk karena sakit yang dideritanya.
Ada lagi joke datang dari dokter spesialis anak yang juga sedang mengisi kuliah pada sistem respirasi. Beliau mengingatkan bahwa seorang dokter harus bisa membedakan pasien dengan sesak karena penyakit respirasi dan karena penyakit kardiovaskuler karena tanda-tandanya sama-sama sesak napas. Kemudian beliau memaparkan ceritanya.
“Saya pernah dapat pasien Anak laki-laki usia 4 tahun datang dengan ibunya yang mengeluhkan anak pertamanya itu sudah dua hari mengalami sukar bernapas. Ketika dianamnesis, ibunya memberikan info seperti ini :
Ibu pasien        : ‘Saya takut, Dok. Kalau anak saya sesak napas karena ada jantung seperti almarhum kakeknya yang meninggal punya jantung juga.’
Dokter             : ‘Sudah dua bulan ya, Bu? Ibu tidak usah terlalu khawatir, Bu. Anak ibu tampak sehat. Lagipula tadi ibu bilang anak ibu punya jantung. Saya juga punya, Bu. Kalau gak punya itu gak hidup, Bu. Kalau maksud ibu itu penyakit jantung, bisa dicegah kok, Bu. Alat semakin canggih dan anak ibu masih terlalu muda sehingga belum kronis seperti almarhum kakeknya. Tenang saja, asal berdoa dan berikhtiar.’ (kata saya sambil tersenyum).”
Kami pun tertawa dengan lawakan dokter yang memiliki selera humor tinggi tersebut. Ibu pasien jadi lebih tenang dan merasa yakin ucapan dokter spesialis anak ini yang mengatakan anaknya sehat. Kesalahan jawaban pasien dapat menjadi guyonan menarik dari pembicaraan dokter dan pasien. Memang di masyarakat tersebar istilah-istilah demikian yang kadang membuat lucu di lingkungan kedokteran. Kata-kata “paru-paru basah” dan “jantung” pada penyakit jantung adalah joke yang kuingat dan kuambil pelajaran berkomunikasi yang baik dengan pasien.

Penulis : Aisyah Nurul Sarah

Selasa, 05 Juni 2012


Keanehan yang Terjawab dan Tak Tejawab

Kemarin adalah hari Senin, 4 Juni 2012. Malam itu aku sedang menikmati kesendirianku dengan membaca buku yang bertuliskan “Immunologi Dasar” di covernya yang berwarna biru laut. Aku sendiri karena teman-temanku sedang menghadiri acara seni yang diadakan oleh mahasiswa kedokteran dari kampusku guna refreshing sejenak di tengah penatnya dunia perkuliahan di kedokteran ini. Kamarku yang terletak di asrama putri tingkat 4 merupakan 1 dari 3 kamar yang terdapat penghuni manusianya. Sisanya yang 21 kamar adalah kosong karena hampir semua menghadiri acara bergengsi ini. Namun aku lebih memilih di kamar dan sekedar membaca, menulis, atau mendengarkan alunan ayat suci Al quran dari laptop yang kubeli dengan uang tabunganku. Aku memang mahasiswi pendidikan dokter tetapi tidak seperti teman-teman yang mudah mengeluarkan uang, orang tuaku tidak demikian. Mereka berdua lebih memilih berhemat dari pada berfoya-foya. Tapi hematnya mereka itu membuahkan hasil yang sangat baik. Keempat anaknya termasuk aku dapat menempuh pendidikan yang seharusnya didapat.

Kembali ke inti di paragraf ini yang ingin aku ceritakan mengenai kejadian kemarin malam. Aku yang sendirian dan menempati tempat tidurku yang terletak di susun teratas, satu kamar dari asrama ini meemiliki masing-masing 2 paket ranjang tersusun 2 kasur. Tepatnya malam itu adalah ba’da maghrib menjelang adzan isya, aku merasakan guncangan di ranjangku dengan berpusat pada satu kaki ranjang saja yang digerakkan, yaitu kaki ranjang yang tidak berhimpit dengan didinding kamar. Aku yang sendirian, merasakan keanehan itu terjadi dua kali. Rasa was-was, khawatir jatuh, dan sedikit takut hinggap di tubuhku yang memiliki tinggi sekitar 163 cm.

Aku kemudian memulai membaca ayat Al quran yang aku hafal. Hatiku sudah mulai mengusir “gangguan” yang kurasa adalah gangguan makhluk halus yang memang begitu pekerjaannya. Namun, keanehan itu terjawab karena para penghuni asrama tingkat 5 kemudian keluar dan saling mengatakan “ada gempa, ada gempa”. Syukur lah keanehan ini terjawab meskipun aku sendiri masih was-was dengan gempa yang sumbernya dari Sukabumi dengan kekuatan 6,1skala richter. Teman-temanku yang merasa panik dengan gempa yang sebentar kemudian menuruni tangga menuju lantai dasar bersama dua orang temanku yang lain.
Aku menulis tulisan ini pun masih cenderung bingung memberi judul. Karena keanehan yang kualami seminggu yang lalu tak dapat dibuktikan dan masih tanda tanya besar akan penyebabnya. Keanehan itu kualami siang hari pada 30 Mei 2012. Kala itu aku sedang sendiri di kamar karena 3 temanku pergi ke daerah Senen untuk membeli pakaian yang dipakai pada acara seni kemarin. Sekitar pukul 11 setelah kuliah paginya aku istirahat di kamar untuk menyiapkan yang akan dibawa untuk kuliah pukul 13.00 dan menikmati makan siang. Setelah makan aku cuci tangan dan merasakan peluh di tubuhku banyak keluar. Mungkin sel-sel di tubuhku sedang menjalankan fungsi metabolismenya setelah mendapat pasokan nutrisi.

Baju yang aku kenakan mulai basah dengan keringat. Akhirnya kuputuskan untuk menyalakan salah satu kipas angin  yang ada di kamarku. Kipas angin itu kuarahkan ke ranjangku yang berada di susun kedua. Aku kembali mengerjakan tugasku menyiapkan untuk kuliah nanti. Namun, setelah beberapa menit aku di ranjangku, hal aneh itu muncul tanpa sebab  dan tak masuk di akal. Kipas angin yang kuputar ke petunjuk ON beberapa menit sebelumnya itu tiba-tiba mati. Tanpa sebab. Listrik tidak mati, listrik tidak anjlok, kabel tidak bergeser, bahkan tak ada orang selain aku di kamar itu. Aku semakin merasa kaget setelah melihat ke arah kipas angin itu dengan petunjuk mengarah kepada tulisan OFF. Harusnya bila memang kipas angin itu mati karena rusak, petunjuknya masih dalam keadaan ON, dan itu tidak membuatku sangat heran, bingung, dan sedikit takut. Dan seharusnya bila memang asrama sedang padam listrik, petunjuk kipas masih dalam keadaan ON dan tidak OFF seperti nyatanya. Aku masih bingung hingga sekarang karena kipas itu ternyata tidak rusak setelah itu aku mencoba memberanikan diri untuk menyalakan lagi. Ditambah lagi aku mendengar permulaan matinya kipas angin itu seperti ada bunyi “tek” seperti orang biasa memutar kipas angin.

Sungguh kejadian itu adalah salah satu kejadian aneh di asrama yang tak terjawab hingga sekarang. Setelah kejadian matinya kipas angin secara mendadak kemudian aku langsung menceritakan kepada orang yang telah melahirkanku melalui telepon. Nasihat beliau adalah membaca ayat Al quran agar tak semakin diganggu makhluk iseng itu. Itu lah senjata terampuh.

Penulis : Aisyah Nurul Sarah