Selasa, 06 Maret 2012

Siapa Bilang??

Melihat fashion, melihat juga wanita. Menilik juga zaman sekarang wanita banyak yang cantik lagi berlomba-lomba menampilkan busana minim. Sampai ada perkataan yang muncul kalau 'gak minim, gak oke'. hemm, belum tahu dia.
Siapa bilang pakai baju menutup aurat itu kuno, kolot, atau sejenisnya?? Padahal kalau ditinjau zaman purba manusianya tidak mengenal busana alias telanjang bulat. Nah, berarti semakin maju zamannya, semakin modern juga dong pemikirannya. Yang pasti busana dari awalnya telanjang bulat, mulai memakai pakaian dengan bahan ulat, hingga pastinya semakin modern harus menutup aurat.
Melihat kebiasaan merokok, melihat juga fenomena pria zaman sekarang. Katanya kalau 'gak ngerokok, gak jantan'. Hemm, padahal dari bungkus rokok sudah banyak peringatan. Namun, itu hanya segelintir bahaya merokok. Yang bertolak belakang dari anggapan mereka bahwa merokok itu jantan adalah rokok itu justru mengurangi kejantanan. Kenapa???
Tak hanya disfungsi ereksi atau impotensi, rokok ternyata juga dapat memperpendek ukuran penis.
Temuan ini berdasarkan hasil studi yang telah dilakukan oleh peneliti dari Boston University School of Medicine terhadap 200 partisipan pria perokok. Dari hasil penelitian, rata-rata perokok mengalami pemendekan penis sebesar 1 cm. Menurut Dr Salimpour, pengaruh negatif rokok pada penis sama halnya dengan pengaruh rokok pada hati. Ini merupakan kerusakan pembuluh darah, yang membuat aliran darah terhambat. Pada dasarnya ini merupakan efek elastin, yaitu protein jaringan ikat yang elastis dan memungkinkan jaringan dalam tubuh untuk kembali ke bentuk semula setelah mengalami peregangan atau kontraksi. Dalam hal ini, elastin mempengaruhi kemampuan ereksi penis.
Dr Salimpour menjelaskan, elastin seperti karet yang bisa meregang. Inilah yang terjadi pada penis sebagai akibat adanya peningkatan aliran darah.
Merokok dapat merusak kemampuan tubuh untuk melakukan hal tersebut, sehingga bisa mempengaruhi ukuran penis dan kemampuan ereksi. Tapi peneliti belum bisa menentukan berapa banyak rokok yang bisa merusak elastin dan memperpendek ukuran penis.
Pemusik sangat menganggap penting alat musik yang dimilikinya. Bagi mereka "tanpa musik hidup terasa tak bergairah". Siapa bilang musik klasik dapat meningkatkan kecerdasan. Menurut penelitian yang pernah dilakukan oleh para ilmuwan Austria bahwa hasil riset tidak menemukan bukti signifikan kalau mendengarkan musik Mozart memberi pengaruh pada kemampuan kognitif seseorang.Dalam studi paling mutakhir itu, para peneliti di University of Vienna mengkaji lebih dari 40 studi dan penelitian yang tak disiarkan yang meliputi lebih dari 3.000 subyek. Kesimpulan mereka adalah tidak ada riset yang mendukung pendapat bahwa musik Mozart meningkatkan kemampuan otak anak.
Secara khusus, temuan itu membantah mitos mengenai dampak peningkatan kemampuan otak di antara pendengar musik Mozart.  Para peneliti melaporkan bahwa mereka tak dapat mengonfirmasi dampak menguntungkan dari mendengarkan musik Mozart.
“Saya menyarankan mendengarkan musik Mozart kepada setiap orang, tetapi ini tak memenuhi harapan akan peningkatan kemampuan kognitif,” kata penulis studi itu, Jakob Pietschnig, ahli ilmu jiwa di University of Vienna.
Tim peneliti dari Universitas Vienna meneliti ulang 3 ribu kasus dari 40 studi internasional yang menyimpulan tidak ada bukti efek dari Mozart.
“Siapapun yang mendengarkan musik baik Mozart, Bach tidak lebih baik dari grup yang tidak. Tetapi kami mengetahui bahwa orang akan memiliki performa yang baik jika mereka memperoleh stimulus,” ujar peneliti utama Jakob Pietsching.
Riset tidak mengatakan musik tidak berdampak pada pengembangan otak, namun pendengar pasif tidak memiliki keuntungan yang masuk di akal seperti yang diperkirakan sebelumnya.
Sementara studi lainnya menyarankan bahwa proses kreatif, analitis dan aktivitas fisik terlibat dalam pembelajaran yang mampu mempengaruhi fungsi kognitif dan otak.
Satu studi longitudinal menemukan bahwa anak-anak yang menerima rangsangan musik tidak selalu akan memiliki kemampuan bermusik, juga kemampuan lain termasuk tata bahasa atau logika matematika.
Studi tersebut memeriksa rangsangan dan pelatihan musik dan analisis terbaru memberikan kesimpulan bahwa tidak ada keuntungan kognitif yang ditawarkan.
penulis : Aisyah Nurul Sarah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar