Jumat, 02 Maret 2012

Mereka di Sekeliling Kita

Belum genap sebulan aku mendiami asrama ini. Tak sedikit cerita tak masuk akal yang kudengar dari penghuni lamanya. Aku hanya mendengar dan mengiyakan bahwa makhluk gaib itu memang ada seperti jin, syetan, iblis, atau malaikat. dan yang wajib diimani adalah malaikat. Cerita yang kudengar itu datang dari teman, kakak tingkat, security, sampai penjaga laboratorium. Yang paling banyak dari penjaga lab. Ya, asrama ini tiga per empatnya dihuni oleh mahasiswi kedokteran jadi wajar terdapat laboratorium terutama lab yang menyimpan cadaver untuk praktikum diseksi anatomi. Jenazah senilai jutaan itu dibeli oleh kampusku dari rumah sakit karena tidak dikenal dan tidak ada keluarga yang menjemput, selain itu ada pula jenazah yang memang sudah menandatangani akan kerelaan menjadi cadaver setelah meninggal. Biasanya orang yang sebelumnya melakukan hitam di atas putih itu adalah orang yang sangat peduli dengan dunia pendidikan.

Kisah penjaga lab yang menjadikan lab sebagai tempat tinggalnya itu kerap kali menceritakan pengalaman tak masuk akalnya. Ia sering mendengar suara-suara aneh di kala malam dari arah ruang lab yang nyatanya hanya ia sendiri yang mendiami lab tersebut dalam keadaan tak bersuara dan tak ada manusia yang melewati lab berbau formalin, obat, dan bahan kimia lain itu. Peristiwa-peristiwa itu datang dengan ditandai suhu dingin dan merinding bahkan sinyal handphone yang agak buruk seketika. Suasana itu disinyalir datang makhluk halus yang mendekati dan mengganggu kita. Makhluk halus yang memiliki suhu jauh lebih rendah dari suhu tubuh manusia normal menyebabkan tubuh manusia yang didekati seperti dihembus udara dingin dan merinding. Tak hanya itu, teknologi canggih sekarang sudah dapat digunakan untuk mendeteksi makhluk halus itu, kabarnya teknologi itu menangkap gelombang yang dimiliki oleh makhluk halus, kemungkinan karena itulah terkadang kedatangan makhluk tersebut yang menjadikan sinyal handphone memburuk.

Pernah pada suatu malam seusai penjaga lab mempersiapkan ujian praktikum yang akan dilaksanakan esok harinya, kembali mengalami peristiwa aneh. Ia yang sendiri di ruang lab terkejut karena sound system yang dalam keadaan off yang telah disiapkan sebagai pengeras suara dokter pengajar esok tiba-tiba nyala dan mengeluarkan suara seperti orang berbisik dengan microfon. Ia kembali merinding, suasana menjadi mencekam ditambah dengan ruang lab yang ber-AC dan bau bahan kimia seperti alkohol dan lain-lain. Ia sadar makhluk itu sedang berada di sekelilingnya, namun ia hanya membiarkan saja dan tetap bermalam di ruang staf yang ada di lab itu. Keesokan pagi sebelum ada orang lain yang memasuki lab, ia kembali mengecek perlengkapan ujian. Bahan praktikum tetap pada tempatnya, mikroskop masih di meja baris pertama seperti keadaan sebelum peristiwa malam tadi, dan AC ruangan lab masih dalam keadaan hidup. Namun, kejanggalan sedikit menjadikan suatu bukti bahwa peristiwa semalam memang benar terjadi, microfon tidak pada tempatnya, barang itu sudah berada di lantai. Aku yang diceritakan tak sedikit pun merasakan takut, karena memang bukan aku yang mengalaminya. Tapi aku memang mengiyakan bahwa makhluk gaib itu ada. Itu baru salah satu kisah dari sang penjaga lab.

Ada lagi dari lantai 5 bangunan asrama ini, aku yang mendiami kamar di lantai 4 mendengar suara mahasiswi ekonomi yang tinggal di lantai 5 sedang gaduh mengerumuni temannya yang jatuh seusai melaksanakan shalat maghrib. Mereka tak lagi mengenal temannya yang jatuh itu karena menunjukkan ekspresi marah dan teriak-teriak dengan suara seperti dibuat-buat. Suaranya menjadi sangar dan jauh dari jati diri ia yang kalem. Ya, mahasiswi itu tengah kerasukan makhluk halus. Teriakannya tak jelas. Security asrama dan penjaga kantin menyerah untuk menanganinya dan pasrah hingga bapak asrama datang. Bapak asrama yang merupakan pendidik agama sepertinya dapat menangani. Aku tak tahu kabar selanjutnya karena tak berani lebih mendekat, pasalnya makhluk halus itu dapat berpindah tempat.

Sekitar tahun 2009 di asrama yang dibangun di tanah bekas hutan jati ini sempat banyak mengundang perhatian publik, pasalnya salah seorang mahasiswinya pernah ditemukan tewas gantung diri di lantai paling atas. Tempat tertinggi asrama itu biasa digunakan mahasiswi untuk belajar atau makan-makan saat ada pesta. Kini tempat itu tak pernah dibuka, dan tetap menjadi bahan perbincangan mahasiswi. Mahasiswi kedokteran memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena stres ditinggal kekasihnya yang berada di luar daerah. Dan hingga kini kamar milik mahasiswi itu tertanda tirai merah dan tak pernah dilepas walaupun untuk dicuci. ada-ada saja. Hal-hal yang tak masuk akal seperti itu banyak dilakukan orang-orang dengan harapan tak diganggu makhluk halus. Padahal tanpa ada ritual-ritual tersebut makhluk gaib memang berada di sekeliling kita. Namun, anggapan itu hanya berasal dari  hal yang tak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Selama aku di asrama aku banyak dipesani orang tua agar tetap berdzikir agar tak diganggu makhluk halus. Tapi tetap saja mereka berada di sekeliling kita, aku pun pernah dua kali mengalami peristiwa aneh di asrama yang baru kutinggali selama 2 minggu. Waktu itu masih Shubuh sekitar pukul 03:40, aku lupa membaca doa sebelum memasuki kamar mandi. Ketika berwudhu aku membuka keran maksimal, namun aku mendengar terdapat keran terbuka selain dari keranku. Suara itu terdengar amat jelas menimpali suara keranku yang laju airnya tetap sama seperti pada awal aku buka. Aku tak melanjutkan berwudhu, aku penasaran siapa orang yang sudah memasuki kamar mandi setelah aku. Kulihat keenam bilik toilet yang ada, namun hasilnya tak ada orang yang bersamaku di kamar mandi. Namun, aku yakin ada bunyi keran lain yang menimpali bunyi keran yang aku buka. Aku sedikit merasakan hawa dingin di kamar mandi, tetapi kuberanikan diri untuk melanjutkan berwudhu.

Berselang satu hari, aku mengalami hal aneh lagi. Dengan waktu yang sama, menjelang adzan Shubuh. Sebelum aku berwudhu aku buang air kecil di bilik kedua kamar mandi. Kamar mandi asrama dibuat per bilik agar mencukupi kebutuhan mahasiswinya yang cukup banyak. Sebelum aku memasuki bilik kedua, aku mendengar suara seperti orang sedang menyiram kloset dengan beberapa air dari gayung dari bilik pertama yang kulewati. Anehnya, pintu bilik pertama itu hanya tertutup setengah, jarang-jarang ada orang yang mengunakan bilik dengan pintu tak terkunci. Aku melongok sedikit ke pintu yang sedikit terbuka itu, namun tak ada kaki orang yang seharusnya dalam keadaan jongkok di kloset pada bilik pertama. Aku merasakan bulu kudukku berdiri seketika. Namun, aku beranikan diri untuk mendorong pintu bilik pertama agar terbuka maksimal, dan ternyata hanya aku lah yang sedang menggunakan kamar mandi pada waktu itu. Ya, aku sendirian. Setelah aku buang air kecil diliputi hawa dingin, aku berwudhu untuk shalat Shubuh. Ternyata aku ingat kala itu aku belum berdoa sebelum memasuki kamar mandi. Selalu permasalahan awal hal-hal itu karena aku lupa berdoa..

penulis : Aisyah Nurul Sarah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar