Selasa, 17 Januari 2012

Antara Jas Putih dengan Jas Hitam

Apa yang diketahui selama ini benar bahwa pencegahan lebih baik daripada mengobati.. Namun, pengobatan apa yang semestinya dapat dijadikan pilihan utama kala sakit menerpa???
Banyak pengobatan sekarang ini yang menjadi opsi masyarakat, mulai dari yang medis hingga yang sadis. Mulai dari klinik hingga tempat klenik. Mulai dari yang ilmiah hingga pengobatan si mbah.
Pengobatan dokter itu berbeda dari pengobatan dukun.. Sang jas putih selalu mendasari pengobatannya dengan teori ilmiah yang mereka pelajari selama bertahun-tahun di fakultas yang terbilang mahal,, yaa,, medical faculty.. Sedangkan paranormal hanya bermodalkan semedi ke suatu tempat untuk mendapat ilmu dari makhluk sebangsa jin.. Mereka tak memiliki landasan yang dapat dipertanggungjawabkan. hanya sebatas ilmu hitam..
Keduanya pun memiliki tujuan yang berbeda.. Ketika dokter bermotivasi untuk mencari penghidupan,, sang dukun pun demikian..Keduanya sama-sama berniat menolong orang.. Hanya saja dokter sebatas menolong orang sakit dengan mendiagnosis penyakitnya kemudian memberi terapi apa yang tepat untuk si pasien.. Berbeda dengan sang dukun yang berniat membantu orang berupa menolong pasien yang sakit dengan ilmu hitamnya dan juga menggunakan ilmunya untuk mengirim penyakit kepada orang yang dibenci pasiennya. Atau  sang dukun pun dapat memperkaya diri pasiennya dengan persyaratan tumbal keluarga yang dicintai pasien.. Yang lucunya,, sang dukun justru tidak dapat memperkaya dirinya sendiri... Namun, ketika ditanya mengapa, sang dukun mungkin akan menjawab, "Itulah tugas mulia menjadi dukun".. Ada-ada saja..
Kemudian bila berbicara mengenai teplak (teknik pelaksanaan)nya.. Sang jas putih lebih berpedoman pada Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) dalam bekerja serta pengobatan yang masuk akal. Bila salah-salah atau malpraktik, tuntutan pasien lah yang didapat sang dokter. Sedangkan sang jas hitam dengan ilmu kleniknya terbebas dari hukum yang berlaku. Belum lagi sang dukun yang tak tahu medis sama sekali, dengan pengobatan yang dapat dikatakan tak masuk akal dapat seenaknya memberi obat dengan sembarangan dosis obat, tanpa melihat reaksi tubuh yang dapat timbul. Hanya sedikit kasus dukun gadungan saja yang dilaporkan ke pihak berwajib, contohnya dukun cabul yang menikmati keuntungan berlebih dari pasiennya.

Penulis : Aisyah Nurul Sarah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar